BERSABARLAH DAN JANGAN MENYERAH

 





"Hei gembel, cepetan dong yang lain pada antri nih," teriak Vanesa. 

"Iya sabar sedikit Nes, Rindu membalas umpatan teman sekolahnya itu dengan suara pelan.

"Memangnya kamu lagi cari apaan sih, koq dari tadi kelihatannya gelisah. Makananmu sudah kamu ambil, apa lagi sich yang kurang?" Atau kamu tidak punya uang ya, buat bayar. Kasihan," Tere mulai mengolok. 

Sementara Rindu masih tetap tak bergeming, jemarinya yang kasar sudah menelusuri setiap celah rok seragamnya, namun uang dua puluh ribuan hasil mencuci pakaian kemarin tak ada di tempatnya. Ia sudah sangat yakin karena baru pagi tadi sebelum berangkat ke sekolah ia sempat meletakkannya di situ. 

"Aduh perutku mulai bernyanyi nich, Rindu buruan dong. Lama-lama aku bisa penyakit lambung ni kalau kelamaan nunggu, "Riko anak pengusaha meubel itu pun ikut protes. 

"Aku tahu, jangan-jangan Rindu tak punya uang ni, buat bayar. Kasihan pasti uangnya ketinggalan ya atau kecopetan tadi pagi???,sini biar Abang yang bayarin, kata Hendrik si playboy.

"Hhhuuuuuuu, dasar buaya darat. Sukanya merayu cewek, padahal kantongnya bolong juga," Daris berusaha menengahi. 

Rindu pun akhirnya bergeser dari antrian dan mempersilakan Vanessa untuk maju. 

"Kenapa? Tak punya duit ya? Kasihan, makanya jangan sok gaya sekolah. Ini sekolah bonafide khusus anak-anak orang kaya yang boleh bersekolah di sini. Bukan gembel sepertimu." Di dorongnya Rindu hingga hampir jatuh. Ups, maaf aku tidak sengaja,"Vanesa terhadap Rindu.

"Mba, aku minta maaf makanannya tidak jadi." Rindu mundur teratur. Hati dan perasaan terasa sakit mendengar cibiran yang dilontarkan Vanessa terhadapnya. Perutnya menjadi teramat perih karena menahan lapar. Apalah daya uang sepuluh ribuan yang ia terima sebagai buruh caci harian jatuh entah di mana.

Ia pun berpindah menempati tempat duduk paling belakang di kantin itu. Sambil memandang teman-temannya yang sedang menikmati makan siang dengan bercengkrama. Yang ia lakukan adalah dengan minum beberapa teguk air yang dibawanya dari rumah.

Tampak Vanesa dan teman-temannya sedang melihat gawai terbarunya. Sesekali mereka melakukan swafoto untuk dimuat di media sosial. Mereka itu adalah Vanesa, Mulan, Jessy dan Agnes. Berasal dari keluarga berada membuat mereka merasa diri paling cantik dan paling berpengaruh di sekolah.

Air mata Rindu menetes perlahan ia jadi teringat kisah hidupnya dahulu. Dirinya pun dulu adalah anak seorang konglomerat terpandang di kotanya. Ayahnya Wilantara adalah pengusaha yang jujur dan penuh tanggung jawab. Beliau selalu bersikap adil dan baik kepada semua karyawannya. Ibunya Retno Wulandari, seorang perempuan hebat dan terpelajar. Ia sering tergabung dengan yayasan amal guna membantu sesama. Ia juga pernah diminta sebagai staf pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di kotanya namun ia tolak ⁷dengan alasan ia masih fokus mengurus kedua buah hatinya.Ibu Ratna begitu menyayangi anak-anaknya karena penuh perjuangan untuk menjadi orang tua. Ia harus menunggu sampai sepuluh tahun pernikahan barulah pasangan ini diberikan kepercayaan memiliki seorang bayi perempuan. "Rindu Aisyah" begitulah nama Putri sulung mereka. Serta adik tunggalnya Galang Ramadhan si tampan yang selalu memandang sesuatu dengan game. 

Kehidupan ini kadang menemui pasang dan surut. Kejujuran dan etos kerja yang tinggi dan komitmen terhadap waktu membuat Pak Wilantara amat di segani oleh semua rekan-rekan bisnisnya. 

Hingga suatu saat ada orang yang tidak suka terhadap pencapaiannya. Orang itu adalah Irvanda, teman akrab Wilantara. Ia merasa iri terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh sahabatnya. 

Secara diam-diam ia menggelapkan uang perusahaan untuk memperkaya diri sendiri. Ia lebih banyak berlibur ke luar negeri, dengan menggunakan uang perusahaan. Sejatinya uang tersebut harus dibayarkan kepada para pegawainya, namun semuanya digunakan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya.

Saat rapat direksi, akhirnya terjadi kecolongan yang cukup fatal dalam laporan keuangan. Ternyata Wilantara telah tertipu oleh kelicikan dan kelihaian Irvanda, semua laporan keuangan fiktif tersebut seolah-olah disetujui oleh Wilantara. Perusahaan mengalami kerugian yang amat besar. Barulah ia sadar telah dikhianati oleh sahabatnya sendiri. 

Malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Wilantara akhirnya dipecat dan diberhentikan sepihak oleh perusahaan tanpa bisa mengajukan pembelaan diri. 

Irvanda yang sudah ia anggap sebagai saudara telah menusuknya dari belakang. Ia tak bisa menolong dan berbuat apa-apa. Ia tersenyum puas karena berhasil menyingkirkan rival terberatnya. 

Ayah Rindu, Wilantara akhirnya bisa pasrah pada nasibnya. Beliau yang dulu begitu energik dan penuh semangat terpuruk dalam pusaran waktu.

Terlalu banyak pikiran membuatnya stress dan kehilangan kendali. Ia lebih banyak diam dan tak mau berinteraksi lagi dengan dunia luar. Ia merasa bahwa hidupnya sudah hancur. 

Retno Wulandari, ibunya Rindu hanya bisa pasrah pada keadaan. Ia tak sanggup melihat keadaan suaminya yang semakin tak bersemangat. 

Hingga suatu saat Pak Wilantara terserang penyakit jantung. Jiwanya tak tertolong dan pergi meninggalkan istri dan dua orang anaknya untuk selama-lamanya .

(Bersambung)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINDUKU TAK TERBATAS

MERDEKA BELAJAR ORANG FLORES