TOLERANSI
Ini adalah kisahku saat masih berada di sebuah kota di pulau Flores. Masyarakat di sana pada umumnya adalah mayoritas beragama Katolik. Kehidupan kami yang harmonis dan tanpa gesekan membuat hidup jadi lebih berwarna.
Sebagai pendatang dari luar kami berasal dari keluarga muslim yang taat. Bapak sebagai guru BP/BK dan sejarah sangat dihormati dan dihargai.
Saya pun tidak pernah merasa sendiri karena berbeda dengan teman-teman yang lain. Bahkan untuk pendidikan dasar saya sudah ikut bersekolah di taman kanak-kanak Ragina Pacis. Di sekolah yang di nakhodai oleh Suster Maria Bathe ini seluruh siswanya beragama Katolik kecuali saya. Sistem pendidikan di sini sudah lebih maju karena mengadopsi sistem pendidikan luar negeri.
Jika di Indonesia kita baru memberikan batasan umur 7 tahun untuk siswa kelas SD saat kurikulum 2013 diberlakukan. Hal ini bagi saya adalah normal karena sesuai dengan pengalaman pribadi saya sendiri harus masuk sekolah dasar saat berusia 7 tahun.
Di Sekolah Dasar pun saya bersekolah di SD TRIKORA yang merupakan sekolah Katholik. Apakah saya takut atau minder? Jawabannya adalah "TIDAK". Karena di sinilah jiwa saya mulai terbentuk dan ditempa dengan berbagai macam perbedaan. Sebagai anak guru dan bersekolah di Yayasan Katholik hal ini pastilah menimbulkan tanda tanya sebagian keluarga kami. Kenapa mesti sekolah di sana, kan ada SD INpres sekolah umum. Hal ini tidak menyurutkan niat Bapak, baginya ini adalah cara untuk meletakkan pola dasar dalam tindakanku nantinya. Dan saya bersyukur melewati masa kecil saya dengan penuh suka cita dan perbedaan dalam bingkai persaudaraan.
Semua teman dan guru sangat menyayangi saya, mungkin saya sedikit berbeda dengan mereka. Saya nyaman dan merindukan saat seperti itu lagi.
Sebagai anak guru saya tinggal di kompleks sekolah bersama dengan teman-teman anak guru yang lain. Ada yang dari Ende, Manggarai, Larantuka dan beberapa tempat lain di Ngada. Kami anak kompleks berbeda namun saling menyayangi seperti saudara. Ada Om Bapa dan Mama Lies dari Larantuka, Om Agus dan Mama Santy dari Maumere, ada banyak saudara yang lain.
Tiap perayaan hari besar adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua anak kompleks. Kalau Lebaran kami semua akan berkumpul di rumah makan kue dan ketupat yang dibuatkan Mama. Begitu pula sebaliknya kalau Natal kami akan berkumpul di salah satu rumah Om Bapa dan Mama Ibu untuk makan camilan.
Toleransi yang tinggi yaitu biasanya setiap hari raya pasti ada makanan khas yang disajikan, tapi tidak ditampilkan. Mereka begitu menghormati perbedaan kami. Jika ada, maka kami tidak diperbolehkan untuk bermain bersama selama seminggu. Hal ini memang membosankan bagi kami. Tapi setelah diberi penjelasan, barulah kami mengerti. Hanya orang yang berjiwa besar yang mampu mengatasi perbedaan dengan cara yang elegant.
Setelah dewasa baru saya bisa melihat indahnya cinta dalam perbedaan. Kami saling menghormati tanpa menyakiti perasaan dan sikap.
Kini meskipun kami semua sudah berpisah persaudaraan kami tetap terjaga. Tidak bertemu secara offline karena Pandemi dan keadaan namun hati dan perasaan kami akan terus berlanjut hingga selamanya.
Agustus adalah bulan yang selalu kita nantikan sebagai bulan kemerdekaan. Tahun ini kita akan merayakan ulang tahun Indonesia yang ke 76. Dalam situasi yang tidak menentu dalam kondisi Pandemi Covid yang melanda dunia dan negara kita. Saya berharap kita harus saling merangkul dan bergandengan tangan menjaga kesehatan dan keselamatan semua.
Dirgahayu Republik Indonesia
Jayalah Indonesia ku.

iNDAHNYA TOLERANSI DENGAN MENGIMPLEMENTASIKAN BHINEKA TUNGGAL IKA
BalasHapusTerima Kasih Om Jay, selalu menginspirasi kami 🙏🙏🙏
HapusDirgahayu Bunda.... Salam Kemerdekaan 🙏
BalasHapusTerima Kasih Pak, salam merdeka 💪💪💪
HapusBijak sekali postingannya. Salam literasi
BalasHapusTerima Kasih Bu Kanjeng, salam merdeka 💪💪💪
HapusMantap.bu,,,
BalasHapusSalam sehat,,,
Semoga sukses selalu
Terima Kasih Pak Guru, salam merdeka 💪💪💪
Hapus